Unhas Kukuhkan Dua Profesor Baru

Unhas Kukuhkan Dua Profesor Baru

Unhas Kukuhkan Dua Profesor Baru

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Universitas Hasanuddin (UNHAS) kembali mengukuhkan dua guru besar baru, yaitu Prof Dr Dorothea Agnes Rampisela, M.Sc. dari Fakultas Pertanian, dan Prof Muhammad Yusuf, S.Pt., Ph.D. dari Fakultas Peternakan Unhas di Ruang Senat Lantai 2, Gedung Rektorat, Selasa 23 Januari 2018.

Pengukuhan kedua profesor tersebut menambah jumlah jabatan guru besar Unhas menjadi 382 orang.

Acara pengukuhan dibuka Ketua Senat Akademik Universitas Hasanuddin Prof. Dr. M. Tahir Kasnawi, SU.

“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrohim, acara pidato penerimaan jabatan profesor ini dibuka,” ujarnya saat mengawali prosesi pengukuhan guru besar tersebut.

Kegiatan penerimaan jabatan guru besar ini dihadiri pula jajaran Rektor dan para Wakil Rektor Unhas, Ketua Majelis Wali Amanah dan anggota, Ketua Senat dan Dewan Profesor, pimpinan fakultas dan lembaga di lingkungan Unhas, serta sejumlah tokoh dan tamu asing, yakni Prof. Hamid Awaluddin, mantan Menteri Hukum dan HAM yang juga guru besar Fakultas Hukum Unhas, Prof. Ohte Nobuhito, guru besar dari Universitas Kyoto Jepang, Mr Okuyama Akira, tenaga ahli sekaligus penasehat kebijakan pembangunan JICA, Mr Ishikawa Shohei, konsultan pembangunan kampus Gowa Unhas, serta para tamu undangan luar yang memenuhi Ruang Senat Unhas.

Dalam pidato penerimaan guru besarnya, Profesor Dorothea Agnes Rampisela membawakan pidato dengan judul “Sumberdaya Air, Kelimpahan, Kekurangan dan Keamanan pada Era Kemanusiaan.”

Sementara pidato Prof. Muhammad Yusuf berjudul “Strategi Perbaikan Gangguan Reproduksi pada Ternak Sapi untuk Kemandirian Produksi Daging dan Susu.”

Profesor Agnes, demikian disapa alumnus Universitas Kyoto (Jepang) ini, mengatakan bahwa air harus dikelola untuk memanusiakan manusia dan mengindonesiakan Indonesia karena pengelolaan air akan berdampak langsung pada harkat diri manusia.

” Pada akhirnya tiba pada keharusan untuk mengelolanya demi kemanusiaan,” ungkap Ibu dua anak itu.

Profesor Agnes menyimpulkan dalam pidatonya bahwa tantangan masa depan kemanusiaan adalah konservasi dan pembagian air.

” Saya pribadi merasakan dorongan terbesar untuk tetap meneliti adalah senyuman bahagia petani yang bisa memperoleh air, meningkatkan panen, dan sedikit merasakan keamanan pangan karena simpanan beras bertambah,” katanya.

Sementara itu, dalam pidato pengukuhannya, Profesor Muhammad Yusuf menjelaskan, angka gangguan reproduksi ternak sapi, baik ternak sapi pedaging maupun sapi perah masih tinggi, khususnya di Sulawesi Selatan dan Indonesia pada umumnya.

Tingginya angka gangguan reproduksi ini sangat mempengaruhi pertumbuhan populasi serta penyediaan daging dan susu yang berasal dari ternak sapi.

Untuk mengatasi tingginya angka gangguan reproduksi pada ternak sapi, lanjut Prof Yusuf, diperlukan strategi jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Strategi jangka pendek dititikberatkan pada manajemen pakan dan nutrisi serta manipulasi siklus berahi dan kontrol ovulasi. Strategi jangka menengah dititikberatkan pada fertilitas pejantan dan induk yang terseleksi di dalam populasi.

Terakhir, strategi jangka panjang ditekankan pada program peningkatan kualitas ternak dengan pemuliabiakan melalui seleksi genetik yang berujung pada tingginya produktivitas ternak, baik untuk tujuan produksi daging maupun untuk tujuan produksi susu serta fertilitas ternak itu sendiri.

” Usaha ternak sapi, baik sapi pedaging maupun sapi perah merupakan suatu sistem yang melibatkan berbagai subsistem, sehingga diperlukan penanganan secara terintegrasi dan berkesinambungan oleh setiap stakeholder,” tutup lelaki kelahiran Bone itu di akhir pidato jabatan profesornya.

Ketua Dewan Profesor Unhas, Prof. Dr Abrar Saleng, SH. MH., dalam sambutannya mengatakan, pidato pengukuhan akademik kedua profesor ini memiliki makna, pertama, sebagai pertanggungjawaban akademik dimana seorang profesor telah menggeluti bidangnya selama bertahun-tahun sebagai dosen.

Kedua, makna moral yang mana seseorang profesor selalu memberikan inspirasi dan hal-hal baru. Ketiga, makna sosial bahwa pidato pengukuhan Prof Agnes dan Prof Yusuf menunjukkan ke publik kedua guru besar memiliki kepakaran masing-masing.

“Oleh karena itu, kalau masyarakat membutuhkan informasi tentang pengelolaan air, dan produksi susu dan daging sapi bisa menemui Prof Agnes dan Prof Yusuf,” ucap Prof Abrar.

Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA, menyambut baik dan sangat bahagia atas pengukuhan guru besar tersebut. Bagi orang nomor satu di Unhas ini, penetapan seseorang menjadi guru besar bukan akhir suatu perjuangan, namun menjadi pendorong baru untuk berkarya menghasilkan inovasi dan teknologi baru untuk kepentingan masyarakat dan bangsa Indonesia.

“Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang banyak melahirkan teknologi dan inovasi. Siapa yang memulainya? Tentu para guru besar, para profesor, dan anak didiknya tentunya,” ujar guru besar bidang Ilmu Sosiologi tersebut, saat membawakan kata sambutan di penghujung acara. (Humas)