Rakor Pimpinan, Unhas Bahas Agenda Strategis 2018 dan Program Internasionalisasi

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Universitas Hasanuddin menggelar Rapat Koordinasi Pimpinan, Selasa (30/1/2018), yang berlangsung di Aula Fakultas Peternakan, Kampus Unhas, Tamalanrea.

Rapat Koordinasi dihadiri oleh Rektor, para Wakil Rektor, Sekretaris Universitas, Dekan-dekan Fakultas, Ketua Lembaga, para Direktur, dan para Kepala Biro.

Rapat Koordinasi ini merupakan kegiatan bulanan yang menjadi agenda rutin pimpinan Unhas. Dalam rapat ini, berbagai isu strategis Universitas menjadi bahasan pimpinan, untuk dikoordinasikan dan dibahas bersama.

Dalam sambutan pengantarnya, Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Puluhubu, MA mengatakan bahwa saat ini Unhas semakin memperoleh pengakuan, bukan saja nasional bahkan internasional.

“Saya baru saja menghadiri Rapat Koordinasi Rektor PTN se-Indonesia di Medan. Jadi, Unhas sekarang ini tidak lagi dibanding-bandingkan dengan kampus-kampus Satker atau BLU, tetapi bench mark Unhas adalah 11 PTN Badan Hukum dan kampus-kampus luar negeri”, kata Prof. Dwia.

Dalam peringkat QS Asia University Ranking, Unhas baru dianggap masuk pada tanking 300 Asia, dan kita belum ada di ranking 700 dunia. QS Ranking merupakan lembaga pemeringkat perguruan tinggi yang memiliki kredibilitas sangat tinggi, dan menjadi acuan banyak pihak.

“Target kita adalah kita harus masuk 100 Asia dan 500 dunia. Itu bisa dan insya Allah akan kita capai”, tekad Prof. Dwia.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, beberapa program strategis yang didorong adalah melibatkan lebih banyak entitas internasional untuk berkolaborasi dengan Unhas.

“Saya menargetkan, setiap fakultas harus memiliki minimal 5 mahasiswa asing. Silahkan dekan-dekan berinisiatif. Kita akan berikan insentif bagi mahasiswa asing yang mau belajar di Unhas,” Prof. Dwia menjelaskan.

Dosen dan peneliti asing juga akan menjadi sumber untuk meningkatkan reputasi internasional Unhas. Setiap tahun, Unhas memiliki dana hibah untuk program World Class University (WCU) yang selama ini kita manfaatkan untuk penelitian.

Tahun ini, hibah penelitian WCU akan disisihkan sebagian khusus untuk membiayai visiting profesor dan research fellow dari luar negeri.

“Jadi, bagi profesor luar negeri yang memiliki reputasi, akan kita biayai untuk datang, mengajar, dan melakukan penelitian di Unhas dengan membawa nama Unhas sebagai host institutions,” kata Prof. Dwia.

Dengan berbagai program ini, Unhas akan menjadi perguruan tinggi yang memberi ruang bagi mahasiswa dan civitas akademika untuk memiliki kualifikasi sesuai standar global.

Interaksi dengan berbagai entitas internasional, baik itu mahasiswa asing maupun dosen dan peneliti asing, akan menjadikan civitas akademika Unhas memiliki budaya akademik tinggi, sesuai standar-standar yang berlaku di dunia. Sehingga, produksi artikel jurnal, misalnya, tidak lagi menjadi target akan tetapi telah dapat menjadi bagian integral dari aktivitas akademik sehari-hari. (***)