Unhas Kukuhkan Dua Guru Besar Bidang Matematika

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Universitas Hasanuddin kembali mengukuhkan dua guru besar baru, yaitu Prof. Dr. Jeffry Kusuma, Ph.D. dan Prof. Dr. Eng. H. Mawardi Bahri, M.Si. dari Departemen Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unhas.

Pengukuhan kedua profesor tersebut menambah jumlah jabatan guru besar Unhas menjadi 384 orang.

Acara pengukuhan guru besar yang dibuka oleh Ketua Senat Akademik Unhas Prof. Dr. M. Tahir Kasnawi, SU. ini berlangsung di Ruang Senat Lantai 2, Gedung Rektorat Unhas, Selasa 6 Februari  2018 pukul 09.00- 11.00 WITA.

Kegiatan penerimaan jabatan guru besar tersebut dihadiri oleh jajaran Rektor dan para Wakil Rektor, Ketua Majelis Wali Amanah dan anggota, Ketua Senat dan Dewan Profesor, para Dekan Fakultas dan pimpinan lembaga di lingkungan Unhas, serta para tamu undangan luar yang memenuhi Ruang Senat Unhas.

Dalam pidato penerimaan guru besarnya, Prof Jeffry mengangkat judul “Peran Ilmu Komputasi Matematika dalam Dunia Pendidikan dan Industri”.

Profesor Jeffry mengatakan, kemajuan Iptek tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Ilmu Matematika.

Prestasi matematika sangat menentukan keberhasilan dan kemajuan suatu bangsa dan negara.

“Perkembangan matematika yang diterapkan pada berbagai disiplin ilmu inilah yang menjadi tulang punggung kebudayaan masyarakat modern sekarang ini, dimana terjadi pergeseran cara berpikir masyarakat tradisional yang bersifat nonanalitis kearah pemikiran yang bersifat analitis,” katanya.

Profesor Jeffry menambahkan, dunia komputasi (perhitungan) telah menjadi kebutuhan dasar manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat awam menggunakan komputasi sederhana dalam bentuk penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Komputasi masyarakat awam dipermudah dengan bantuan kalkulator. Namun, sayangnya, menurut ayah dua anak ini, di Indonesia konsep komputasi yang awalnya diperkenalkan pada usia dini seringkali dipasung dengan melarang siswa didik menggunakan kalkulator dan alat bantu lainnya.

“Berbeda dengan beberapa negara industri, siswa sekolah menengah atas justru dianjurkan dan diajarkan menggunakan kalkulator dan komputer. Kita akan hidup dengan robot, tinggal di smart city, beraktivitas dengan teknologi nano, melakukan komputasi dengan komputer kuantum, dan berinternet dalam segala bidang”, tambah Prof Jeffry.

Sementara itu, Prof. Mawardi mengangkat judul pidato “Perkembangan Prinsip Ketidakpastian pada Transformasi Fourier Quaternion.”

Dalam ulasannya, Prof Mawardi menjelaskan bahwa Fourier Quaternion merupakan perluasan bilangan-bilangan kompleks ke dimensi yang lebih tinggi, yaitu dimensi empat (4-D).

Dalam pengolahan citra digital, transformasi Fourier Quaternion ini memiliki peranan yang sangat penting sebagai filter dalam pemrosesan citra digital.

“Filter (dalam Transformasi Fourier Quaternion) adalah alat untuk memproses citra yang mempunyai ciri mengambil citra asli untuk diproses menjadi citra sebagaimana hasil yang diinginkan, “ ujar Prof Mawardi dalam pidatonya.

Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA., mengapresiasi pengukuhan kedua guru besar ini yang berdasal dari departemen yang sama, jurusan Matematika FMIPA.

Sebab, dalam acara penerimaan pidato guru besar Unhas biasanya dari program studi yang berbeda.

Rektor Dwia berharap pada kedua profesor tersebut melahirkan inovasi-inovasi untuk mendukung kehidupan bangsa dan negara yang lebih baik, utamanya bagi dunia industri.

Profesor Dwia menambahkan harapannya untuk membantu pihak jurusan Matematika membuat desain dan kurikulum matematika yang lebih menarik, sehingga calon-calon mahasiswa dari berbagai daerah bisa tertarik untuk memilih jurusan matematika dan sains.

“Dalam jurnal internasional yang saya baca, anak-anak muda menurun dalam hal ketertarikan terhadap matematika. Para alumni Indonesia, sering kalah bersaing di dunia internasional pada bidang IPA. Saya berharap bagi para pendidik matematika bisa melahirkan calon-calon matematikawan yang memberikan penyelesaian terhadap dunia pendidikan dan industri,” ujar Profesor Dwia.

Orasi ilmiah kedua guru besar ini ditutup oleh Ketua Senat Akademik Universitas Hasanuddin Prof. Dr. M. Tahir Kasnawi, SU. “Dulu saya pusing dengan matematika, tapi saya berusaha mencintai matematika, meskipun sebenarnya yang saya cintai itu adalah guru matematikanya yang cantik”, canda Prof. Kasnawi di penghujung acara. (Rilis)