Alasan Mahasiswi UIN Makassar Keberatan Larangan Bercadar di Kampus

ilustrasi. (foto: djournalist.com)

ilustrasi. (foto: djournalist.com)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Larangan menggunakan cadar bagi mahasiswa sebagai bentuk pencegahan lahirnya radikalisme dilingkup kampus, justru menuai protes dari kalangan mahasiswi.

Lita Mustika, mahasiswi jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) UIN Alauddin Makassar membeberkan bahwa aturan yang melarang mahasiswi menggunakan cadar sama saja dengan melarang menunaikan kewajiban untuk menutup aurat.

“Saya tidak setuju dengan aturan itu, karena setiap orang itu punya haknya masing-masing. Jika bercadar dilarang digunakan di dalam area kampus berarti seorang itu telah melarang hak seorang wanita dalam menuaikan kewajibannya,” kata Lita Mustika, kepada Djournalist.com, Rabu, 7 Maret 2018.

Ia juga menjelaskan bahwa hal itu memang tidak wajib, tapi tidak ada salahnya jika dilakukan.

“Jika ada yang berpendapat bahwa bercadar itu tidak diwajibkan, namun ada juga yang menggunakannya karena untuk menjaga. Seperti yang kita tahu auratnya wanita itu ditutup sampai kakinya. Analoginya kaki yang tidak menarik dipandang saja ditutupi apa lagi wajah,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Alauddin Makassar, Junaedi mengatakan bahwa setiap individu memiliki hak masing-masing, termasuk seorang perempuan yang memutuskan untuk menggunakan cadar.

“Menurut saya itu adalah hak kebebasan seseorang individu. Apakah itu mereka mau bercadar atau tidak. Bagi saya tidak jadi masalah dan itu bukan sesuatu yang salah. Tapi menurut saya yang salah itu ketika seorang muslimah lantas tidak pakai kerudung,” sebutnya. (**)