Naik Drastis, Peringkat SDM Unhas Tempati Posisi Teratas Nasional

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Setiap tahun, Kemenristek Dikti mengumumkan peringkat perguruan tinggi seluruh Indonesia. Pemeringkatan ini didasarkan pada akumulasi penilaian terhadap 5 komponen, yaitu:

1. Sumber Daya Manusia (bobot 25%);
2. Kelembagaan (bobot 28%);
3. Kemahasiswaan (bobot 12%);
4. Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (bobot 30%);
5. Inovasi (bobot 5%).

Hasil rekapitulasi terhadap setiap komponen tersebut menunjukkan Unhas berada pada posisi ke-8 (atau naik satu peringkat) dari lebih 4.000-an perguruan tinggi seluruh Indonesia. Hasil ini telah diumumkan oleh Kemenristek Dikti pada tanggal 17 Agustus 2018 lalu.

Dari hasil penilaian terhadap setiap komponen, kontribusi kenaikan ini disumbangkan oleh capaian dalam bidang SDM, yang meningkat tajam dari posisi ke-12 tahun 2017 lalu menjadi posisi ke-1 tahun 2018 ini. Hal ini berarti, dari sekitar 4.000-an perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia, komponen SDM Unhas dinilai memiliki posisi terbaik.

Dalam klasterisasi yang dilakukan oleh Kemenristek Dikti, komponen SDM memiliki tiga indikator, yaitu, jumlah dosen berpangkat akademik Lektor Kepala dan Guru Besar (profesor), jumlah dosen bergelar doktor, dan rasio dosen terhadap mahasiswa.

Sekretaris Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Nasaruddin Salam, MT, pada Kamis (13/9/2018) mengatakan, capaian ini merupakan hasil dari upaya sistematis yang dilakukan untuk pembenahan aspek SDM Unhas.

Selama setahun, dirinya yang membidangi manajemen SDM Unhas secara serius melakukan langkaj pembenahan. Apalagi, pada tahun 2016 posisi SDM Unhas berada di peringkat ke-10. Penurunan menjadi peringkat ke-12 tahun 2017 itu mendatangkan tanda tanya besar.

“Jumlah profesor kita adalah yang terbanyak di Indonesia. Dosen kita yang bergelar doktor sudah lebih seribu dari 1.700-an dosen. Akreditasi institusi kita A, artinya rasio dosen dan mahasiswa sudah sesuai standar. Kenapa peringkat SDM kita justru turun tahun lalu? Ternyata persoalannya adalah di manajemen dan data SDM. Maka, tahun lalu kami fokus disitu,” kata Prof. Nasaruddin.

Upaya strategis yang dilakukan adalah melakukan penyisiran terhadap seluruh data dosen. Banyak sekali dosen yang sudah berpangkat Lektor Kepala tapi di sistem database masih tercantum Lektor. Begitu juga yang sudah berpangkat Guru Besar namun masih tercantum Lektor Kepala.

Di sisi lain, banyak dosen yang sudah bergelar akademik doktor namun di database masih tercantum master.

“Kita mendorong pembenahan data secara maksimal. Kita membentuk tim khusus untuk menyisir status dosen dan kita sesuaikan dengan database,” kata Prof. Nasaruddin.

Selain itu, secara proaktif bagian kepegawaian juga memantau status kepangkatan dosen. Jika sudah waktunya dosen untuk naik pangkat namun belum mengurus, maka dosen tersebut akan diingatkan.

“Banyak dosen yang karena kesibukannya lupa mengurus kenaikan pangkatnya. Ini kita surati. Walaupun surat itu sifatnya teguran, tapi banyak dosen yang merasa senang. Karena mereka ditegur untuk kebaikan mereka sendiri,” kata Prof. Nasaruddin.

Tantangan ke depan bagi Unhas adalah menjaga status peringkat terbaik bidang SDM ini. Apalagi sekarang beberapa kampus besar dari Jawa bahkan mau belajar ke Unhas tentang hal ini. (Humas)