Dosen STKIP Bone Raih Gelar Doktor

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Dosen STKIP Muhammadiyah Bone, Andi Tenri Sua resmi menyandang gelar akademik dokter. Gelar diperolehnya usai mempertahankan disertasi pada ujian promosi doktor pada Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Makassar (UNM), Kamis 27 September 2018.

“Usai menimbang, maka disimpulkan, dinyatakan lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,91 atau sangat memuaskan,” kata Prof Hamsu Gani, Direktur PPs UNM yang menjadi ketua sidang.

Tenri, kata Hamsu, berhak menyandang gelar dokter usai dinyatakan lulus dalam ujian promosi dalam bidang pendidikan Bahasa Indonesia tersebut.

Di mana, Tenri membawakan disertasi yang berjudul “Analisis Bentuk, Fungsi dan Nilai Ungkapan Bugis Masyarakat Bone”. Dia mengangkat disertasi itu bukan tanpa alasan.

Disertasinya dilatarbelakangi dengan niat untuk melestarikan budaya-budaya Kabupaten Bone. Budaya itu, khusus dalam penggunaan ungkapan-ungkapan dalam bahasa Bugis Bone.

“Tesis ini latar belakangnya adalah semangat untuk melestarikan budaya Bone,” kata Tenri.

Dalam penelitaian disertasinya, Tenri menemukan enam bentuk ungkapan bahasa Bugis Bone. Ungkapan itu terdiri dari peribahasa, perumpamaan, pepatah, ibarat, pemeo dan idiom.

Secara rinci, ada 59 ungkapan bahasa Bugis Bone yang ditemukan dalam dua tahun penelitiannya. 10 ungkapan diantaranya berbentuk peribahasa, 11 perumpamaan, 17 pepatah, 6 ibarat, 6 pemeo dan 9 ungkapan dengan bentuk idiom.

Fungsi dari ungkapan bahasa Bugis Bones yang ditemukan juga berbeda-beda. Fungsi ungkapannya, meliputi edukatif, etik pribadi,, moral dan fungsi sosial. Sementara nilai ungkapan bersifat religius, filosofis dan etis.

Saat ini, lanjutnya, ungkapan-ungkapan itu mulai jarang terdengar dalam kehidupan keseharian masyarakat. Apalagi, dalam rumah tangga.

“Ungkapan itu hanya biasa didengar dalam acara-acara adat,” katanya.

Sebagai solusi, Tenri menyarankan agar masyarakat, khususnya dalam tingkat rumah tangga tak gengsi menggunakan ungkapan dari leluluhurnya.

“Pelestarian budaya ini juga harus ada dalam pendidikan formal,” pungkasnya. (**)