Mahasiswa KKN UIN Makassar Angkatan 59 Gelar Festival Anak Sholeh

Mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar Angkatan 59 Posko Pa'ladingan menggelar kegiatan Festival Anak Sholeh di Masjid Nurul Yamin, Jalan Poros Sapaya-Malakaji, Desa Pa'ladingan, Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa, Jum'at 21 Desember 2018.

Mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar Angkatan 59 Posko Pa'ladingan menggelar kegiatan Festival Anak Sholeh di Masjid Nurul Yamin, Jalan Poros Sapaya-Malakaji, Desa Pa'ladingan, Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa, Jum'at 21 Desember 2018.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Angkatan 59 Posko Pa’ladingan menggelar kegiatan Festival Anak Sholeh di Masjid Nurul Yamin , Jalan Poros Sapaya-Malakaji, Desa Pa’ladingan, Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa, Jum’at 21 Desember 2018.

Kegiatan pembukaan ini dihadiri lansung Hartini Tahir Ketua Pusat Study Gender dan Anak UIN Alauddin Makassar, Erlina pembimbing KKN kecamatan Bontolempangan, Jabir Bado Staf LP2M UIN Alauddin Makassar, Kepala Desa terpilih Marwan Afir, dan perwakilan mahasiswa tiap posko, Bontotangnga, Bontoloe, Bontolempangan 1, Lassa-Lassa, Paralompoa, Ulujangan, dan para tokoh masyarakat desa Pa’ladingan.

Dalam kesempatannya, Hartini Tahir selaku Ketua Pusat Study Gender dan Anak UIN Alauddin mengaku terkesan terhadap penampilan tarian tradisional “Mappadendang” yang dibawakan langsung anak-anak desa Pa’ladingan saat pembukaan acara festival Anak Sholeh.

“Saya terkesan sekali terhadap persembahan dari anak-anak kita, sebuah karya yang mengungkapkan kegembiraan pada saat menyambut musim panen, suatu saat pada di era kemajuan teknologi ini, mungkin ini tidak bisa lagi kita liatdan hanya ada dalam ungkapan,”ucapnya di depan puluhan peserta yang hadir.

Hartini Tahir berharap kepada masyarakat setempat untuk menjaga kearifan lokal termasuk benda-benda bersejarah yang ada di daerah kita.

“Meskipun di era teknologi saat ini sudah banyak alat yang membantu memudahkan cara panen masyarakat , namun saya berharap pemerintah setempat menyediakan museum untuk benda-benda bersejarah yang digunakan masyarakat kita dulu saat memanen, termasuk alat musik dan lainnya, agar anak-anak kita saat ini tidak begitu mudah melupakan bukti-bukti sejarah yang digunakan masyarakat dulu,”tutupnya.

Sementara itu, Mujtahidin Taufiq selaku koodinator Desa Pa’ladingan berharap agar kegiatan Frstival Anak Sholeh ini bukan hanya sekedar ajang perlombaan semata.

“Saya berharap festival anak sholeh mampu menumbuh kembangkan bakat dan kecerdasan spiritual serta menjadikan nilai-nilai Al-quran sebagai cara pandang hidup adik-adik , khususnya di desa Pa’ladingan yg kita cintai ini,”harapnya. (Citizen Reporter)