Di Depan Puluhan Mahasiswa Fisip Unhas, Kemkominfo Sosialisasi Pemilu 2019

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menggandeng FISIP Unhas dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar Sosialisasi Pemilu 2019 para pemilih jelang pelaksanaan pileg dan pilpres pada 17 April 2019 dan Forum Dialog dengan tema Suara Kita Menentukan Masa Depan Bangsa di Baruga Unhas, 20 Maret 2019.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menggandeng FISIP Unhas dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar Sosialisasi Pemilu 2019 para pemilih jelang pelaksanaan pileg dan pilpres pada 17 April 2019 dan Forum Dialog dengan tema Suara Kita Menentukan Masa Depan Bangsa di Baruga Unhas, 20 Maret 2019.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com –
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menggandeng FISIP Unhas dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar Sosialisasi Pemilu 2019 para pemilih jelang pelaksanaan pileg dan pilpres pada 17 April 2019 dan Forum Dialog dengan tema Suara Kita Menentukan Masa Depan Bangsa di Baruga Unhas, 20 Maret 2019.

“Jadi kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan kementerian Kominfo di Unhas, merupakan kelanjutan dari kerjasama kami bersama Komisioner KPU (dalam peningkatan partisipasi pemilu). Sesuai dengan RPJM rencana 2018-0219, target nasional kita 77,5 persen,” kata Kasubdit Informasi dan Komunikasi Politik dan Pemerintahan Dit Informasi dan Komunikasi Polhukam Kementerian Komunikasi dan Informatika Hypolitus Layanan.

Sementara itu, Dosen Senior London School of Public Relation Jakarta Ahmed Kurnia S dalam pemaparannya menyebutkan, pemilihan legislatif (Pileg) 2019 harus dijadikan sebagai momentum kebangkitan bagi kaum perempuan dalam berperan aktif mendukung anggota parlemen perempuan.

“Saat kaum perempuan itu bangkit dan produk legislasi perlu aspirasi kaum perempuan,” ujarnya di Forum Partisipasi Pemilih Pemula dan Perempuan: Suara Kita Menentukan Masa Depan Bangsa.

Menurut dia, keterwakilan kaum perempuan saat ini sangat minim, dibawah 15 persen, padahal kuota parlemen perempuan sebanyak 30 persen dari total seluruh anggota legislatif. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan disaat jumlah pemilih perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.

“Keterwakikan di parlemen meningkat saat ini kurang lebih 15 persen kita harus tingkatkan lebih dari 20 persen,” katanya. (***)