Ratusan Mahasiswa Tadulako Sudah Mendatakan Diri ke Unhas

Sehari setelah membuka pendataan awal mahasiswa Universitas Tadulako yang berminat untuk kuliah sementara (sit in), Universitas Hasanuddin menerima lebih 400 mahasiswa yang mengisi formulir.

Sehari setelah membuka pendataan awal mahasiswa Universitas Tadulako yang berminat untuk kuliah sementara (sit in), Universitas Hasanuddin menerima lebih 400 mahasiswa yang mengisi formulir.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Sehari setelah membuka pendataan awal mahasiswa Universitas Tadulako yang berminat untuk kuliah sementara (sit in), Universitas Hasanuddin menerima lebih 400 mahasiswa yang mengisi formulir.

Para mahasiswa ini berasal dari berbagai program studi yang juga ada di Unhas.

Wakil Rektor Bidang Akademik Unhas, Prof. Dr. Ir. Muhammad Restu, MP, menjelaskan bahwa pendataan awal ini diprioritaskan untuk mahasiswa Untad yang mengungsi ke Makassar dan sekitarnya.

“Jadi kita melakukan pendataan dulu, setelah itu kita akan berkomunikasi dengan Untad untuk memberikan rekomendasi. Bagi mahasiswa yang masih berada di Palu, sebaiknya coba menghubungi dulu kampus Untad. Jika kesulitan, atau pihak kampus tidak dapat dihubungi, silahkan langsung ke Unhas. Itu jika mahasiswa yang bersangkutan ingin sit in di Unhas,” kata Prof. Restu.

Sore tadi Kamis, 4 Oktober 2018 sekitar pukul 14.00 WITA, Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA menyempatkan diri berkunjung ke Posko pendaftaran yang dibuka di lantai dasar Gedung Rektorat.

” Pada awalnya Posko pendataan ini kita siapkan di lantai 6. Namun melihat antusiasme mahasiswa asal Untad yang datang, saya perintahkan untuk dipindah ke lantai dasar. Jadi lebih mudah diakses oleh mahasiswa yang mau mengisi formulir pendataan,” kata Prof Dwia.

Pada kesempatan ini, Rektor Unhas yang didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, sempat berdialog dengan mahasiswa Untad.

Seorang mahasiswa, Muh Alfatrah Butuuni menceritakan bencana yang dia alami. Saat itu, dirinya sedang berada di kampus. Mahasiswa asal Baubau yang kuliah di Fakultas Kedokteran ini mengaku cukup trauma.

Ia mengatakan bahwa sering kali terbangun tengah malam dan merasa ketakutan akan terjadi lagi gempa, padahal dia sudah berada di Makassar.

Rektor Unhas memberi semangat dan dorongan agar Alfatrah bisa sabar dan termotivasi lagi untuk kuliah.

“Kita membuat program ini salah satu tujuannya adalah agar mahasiswa dapat tetap belajar. Selain itu, mereka bisa tetap memiliki aktivitas sehingga dapat perlahan-lahan melupakan situasi dramatis yang baru saja mereka alami,” kata Prof. Dwia.(**)