Ni’matullah Ajak Mahasiswa Kembangkan Soft Skills

Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan Ni'matullah saat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Panduan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Universitas Hasanuddin di Hotel Aston, Jalan Sultan Hasanuddin, Sabtu, 9 Oktober 2021.

Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan Ni'matullah saat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Panduan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Universitas Hasanuddin di Hotel Aston, Jalan Sultan Hasanuddin, Sabtu, 9 Oktober 2021.

MAKASSAR,DJOURNALIST.com  —  Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulsel, Ni’matullah Erbe mendesak mahasiswa saat ini harus mampu mengembangkan soft skills dan hard skills.

Sehingga, lanjut Ni’matullah, di sela-sela mahasiswa menempuh pendidikannya, hal itu juga dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan lain yang mendukung dirinya saat telah lulus nanti.

Hal tersebut disampaikan Ni’matullah pada Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Panduan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Universitas Hasanuddin di Hotel Aston, Jalan Sultan Hasanuddin, Sabtu, 9 Oktober 2021.

“Pertama, saya merasa sangat terhormat bisa diundang dalam kegiatan ini. Bagi saya, sangat
nostalgic dengan forum seperti ini,” sebut Ulla– sapaan akrab Ni’matullah.

“Intinya, LKMM harus bisa menghasilkan soft skill mahasiswa. Makanya dalam kesempatan ini kita buat silabus pengkaderan mahasiswa. Saya di sini hanya berikan masukan,” terang Ulla.

Ni’matullah menuturkan mengapa senat mahasiswa Unhas periode pertama paling sukses? Karena mampu mengambilalih universitas.

“Selalu saya tekankan kepada pengurus bahwa lembaga ini akan eksis kalau senat universitas bisa diambilalih. Maksud saya, gerakan mahasiswa sudah harus ada definisi ulang. Harus ada perubahan yang sangat drastis baik di kampus maupun di lingkungan luar,” ujarnya.

Ketua Partai Demokrat Sulsel ini menilai gerakan mahasiwa sekarang ini sangat identik dengan demonstrasi. Menurut Ulla, gerakan tersebut bukan lagi zamannya di era internet.

“Jangan jadikan demo mahasiswa sebagai tujuan sekaligus substansi. Bagi saya, demo hanya instrumental atau alat saja. Jadi harus dipahami secara serius,” paparnya.

“Hari ini terlalu banyak instrumental yang bisa dipakai. Menurut saya harus ada definisi ulang,” jelas Ulla.

Lebih jauh, Ulla menegaskan gerakan mahasiswa adalah nafas oposisi. Kalau ada gerakan mahasiwa yang tidak oposisi, maka itu gerakan penjilatan.

“Sistem demokrasi kita saat ini sudah sangat rapuh. Sistem parpol sangat sentralistik. Menurut saya ini yang harusnya mewarnai pengkaderan,” sebutnya.

“Internet saat ini sangat mempengaruhi kehidupan kita. Kenapa mahasiwa kita tidak gunakan itu. Tidak lagi harus turun jalan yang sudah norak sekali karena tidak relevan. Kenapa tidak contoh mahasiswa UI. Hanya satu hastage bisa getarkan publik se Indonesia,” katanya.

Hanya saja, sambung Ulla, bermain di dunia maya sangat tergantung pada kemampuan menulis. Mahasiswa Harus bisa buat narasi yang ringkas tapi pesannya sampai ke publik.

“Makanya mahasiswa harus banyak baca buku dan berdiskusi. Jadi mahasiswa Unhas itu sangat istimewa sekali. Kemewahaan luar biasa. Ada akses guru besar terbaik di Sulsel. Jangan pernah takut salah kalau masih mahasiswa karena kalau sudah keluar tidak boleh salah lagi,” tandasnya.

Mantan Ketua Senat Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini mengatakan, harmonisasi terjadi antara lembaga tingkat universitas dan fakultas tercipta karena tidak saling mencampuri.”Kala itu, untuk pertama kali kami membuat penerimaan mahasiswa baru level universitas. Kemudian persoalan ospek, diserahkan ke masing-masing fakultas biar tidak terjadi gesekan,” katanya.

Ulla pun berpesan kepada mahasiswa untuk berdamai dengan keadaan saat ini dengan zaman yang sudah terkoneksi melalui media sosial.

“Anak sekarang sudah terkooptasi dengan media sosial, tapi mahasiswa harus belajar menjadi pemimpin. Pemimpin itu tercipta dari pengalaman artinya, Anda mengalami dalam memimpin sebuah organisasi,” tutup Ulla.

Wakil Rektor III Unhas, Arsunan Arsin mengatakan bahwa salah satu “utang” dari periode ini adalah format penyusunan LKMM yang belum ada. “Yang lain sudah terpenuhi di peiode ini. Beberapa peraturan sudah dikeluarkan. Diantaranya; dana abadi untuk alumni,” ujarnya.

Arsunan menyampaikan bahwa mengelola dunia kemahasisaaan ada empat point, yakni kaderisasi kepemimpinan. Dimana mahaiswa harus bisa menjadi pemimpin di segala lini kehidupan.

Kemudian kesejahteraan mahasiswa dengan memacu beasiswa. Selanjutnya memacu prestasi mahasiswa yang betul-betul harus dijaga.

“Kemahasiswaan unhas sudah masuk papan atas di negeri ini. Baik penalaran maupun bakat sudah papan atas. Indikatornya, Unhas peringkat lima,” terangnya.

Terakhir, stabilitas kampus. “Empat point itu harus sinergi. Format ini porsinya 60% aturan dari dikti, 20% universitas, 20% fakultas. Kenapa fakultas? karena ada muatan lokalnya,” tutup Arsunan.